Produksi Massal
Mikoriza Tingkat Petani
Mikoriza,
jamur yang bersimbiosis secara mutualisme dengan perakaran tanaman.
Mikoriza diambil dari kata Mycos yang berarti jamur dan Ryzos
yang berarti akar. Keberadaan mikoriza di tanah sangat membantu tanaman
dalam melakukan penyerapan air dan unsur hara terutama unsur phospat (P).
Penyebaran
mikoriza di berbagai areal pertanaman di Indonesia sangat merata, mulai dari
pertanaman daerah pantai sampai pertanaman di daerah pegunungan. Namun
Mokoriza berkembang cukup baik di daerah dengan salinitas tinggi yaitu didaerah
pantai.
Penyebaran
Mikoriza yang sangat luas merupakan salah satu sumberdaya alam yang perlu
diberdayakan. Karena seiring dengan semakin luasnya lahan kritis
akibat dari jenuhnya tanah akibat pemberian pupuk kimia serta dampak kekeringan
keberadaan Mikoriza semakin menurun. Sehingga perlu usaha – usaha
pengembangan Mikoriza untuk mempertahankan kondisi tanah agar lahan kritis
tidak semakin meluas. Hal tersebut berdasarkan atas manfaat Mikoriza bagi
tanaman. Beberapa Manfaat Mikoriza bagi tanaman antara lain, memperluas
area perakaran. Area perakaran dapat diperluas dengan percabangan hifa
atau miselium Mikoriza yang telah menginfeksi akar tanaman.
Hifa
mikoriza dapat berperan sebagai kepanjangan akar tanaman. Akar tanaman
yang pendek dan serabut, atau akar-akar tanaman yang tidak dapat tumbuh dengan
baik akibat sifat fisik dan kimia tanah yang rusak dapat terbantu perannya
dalam menyerap air dan unsur hara. Hifa Mikoriza yang telah menginfeksi
akar tanaman dapat menjulur sampai 10 meter (Simanungkalit, 2009). Dengan
panjang hifa tersebut maka akar tanaman mampu menyerap unsur hara dan air pada
area-area tanah yang tidak dapat terjangkau oleh akar. Dengan mekanisme
simbiosis mutualisme inilah tanaman-tanaman yang perakarannya bermikoriza lebih
tahan terhadap kekeringan.
Mikoriza
yang tersebar di alam ada beberapa jenis. Diantara jenis mikoriza yang
potensial dikembangkan adalah Glomus, Gigaspora dan Acaulospora.
Potensi Mikoriza tersebut sebagai simbion tanaman cukup baik sehingga perlu
usaha pengembangan dan perbanyakannya secara massal.
Guna
mengembangkan dan memperbanyak Mikoriza secara massal dengan biaya yang relatif
murah maka diperlukan adanya Teknologi Tepat Guna Pengembangan dan perbanyakan
Mikoriza. Salah satu usaha tersebut adalah mengupayakan perbanyakan
massal yang dapat dilakukan secara mandiri oleh petani. Langkah-langkah
perbanyakan massal Mikoriza tingkat petani adalah sebagai berikut:
Persiapan.
Persiapan alat dan bahan yang
diperlukan. Alat dan bahan yang diperlukan dalam perbanyakn massal
Mikoriza adalah sebagai berikut: Bak plastik, ember plastik, cetok, hand
sprayer, dandang sabluk, kompor. Sedangkan bahan yang diperlukan
adalah sebagai berikut: Starter Mikoriza, zeolit (dapat diganti dengan pasir
laut atau sungai), benih Sorghum (dapat diganti dengan benih jagung).
Semua alat dan bahan tersebut diatas relatf mudah diperoleh. Starter
Mikoriza dapat diperoleh di beberapa tempat antara lain, Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian (BPTP) Serpong, Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta
dan Institut Pertanian Bogor.
Produksi
Tahap
produksi diawali dengan sterilisasi media. Media perbanyakan Mikoriza
yang berupa Zeolit atau pasir di sterilkan dengan menggunakan dandang sabluk.
Panaskan media selama 1 (satu) sampai 2 (dua) jam, tujuan dari kegiatan ini
adalah membunuh mikroorganisme yang hidup pada media perbanyakan. Dengan
mati dan berkurangnya mikroorganisme tersebut maka akan mengurangi tingkat
kompetisi antara Mikoriza dengan mikroorganisme lain. Selain itu tujuan
sterilisasi media adalah agar tanaman inang (sorghum) tidak terserang hama dan
penyakit.
Selanjutnya,
media yang telah steril dimasukkan kedalam bak plastik sebanyak ¾ dari volume
bak palstik. Tanam benih sorgum pada media yang telah disiapkan.
Benih yang akan ditanam sebaiknya dikecambahkan terlebih dahulu. Benih
yang telah berkecambah dapat meningkatkan prosentase benih tersebut dapat
tumbuh dengan baik, karena media tanam yang digunakan miskin akan unsur hara.
Cara menanam
benih sorgum pada media zeolit adalah sebagai berikut:
- Buat lubang tanam pada media zeolit. Lubang tanam sebaiknya tidak terlalu dalam, kira-kira 2-3 cm dari permukaan media.
- Letakkan starter Mikoriza sebanyak 0,5-1 gram pada lubang tanam tersebut. Starter Mikoriza yang digunakan minimal mempunyai populasi spora 10-20 spora Mikoriza.
- Tanam benig sorghum yang telah berkecambahdenga posisi tunas menghadap ke atas lalu tutup dengan zeolit.
Inkubasi dan
Perawatan
Inkubasi dan
perawatan dalam usaha pengembangan dan produksi massal Mikoriza skala petani
sangat mudah. Inkubasi adalah proses pengontrolan dan pengamatan
pertumbuhan tanaman inang yang diletakkan di suatau tempat tertentu.
Inkubasi tidak memerlukan ruang atau tempat khusus. Cukup letakkan pada
lokasi yang cukup sinar matahari kemudian lakukan perawatan tanaman dengan
penyiraman dan pemupukan. Namun penyiraman jangan terlau sering
dilakukan. Cukup dengan menjaga kelembaban permukaan media zeolit .
Kemudian pemupukan dilakukan secukupnya, dengan pupuk yang mengandung
nilai P rendah. Perawatan benih yang telah tumbuh juga meliputi
pengamatan hama dan penyakit. Segera cabut tanaman-tanaman yang terserang
hama dan penyakit atau tumbuh abnormal. Inkubasi dilakukan selama 2 (dua)
bulan.
Stressing
Stressing
adalah usaha menghambat atau menekan pertumbuhan tanaman inang dengan kondisi
tertentu dengan tujuan agar Mikoriza yang bersimbiosis dengan akar tanaman juga
mengalami tekanan. Sehingga dalam kondisi tertekan Mikoriza akan
membentuk struktur tahan yaitu spora. Dalam bentuk spora inilah Mikoriza
dapat dipanen. Bentuk-bentuk stressing yang dapat dilakukan adalah
sebagai berikut.
- Tanpa penyiraman. Setelah selama 2 (dua) bulan tanaman inang dirawat dan diinkubasikan makam pada bulan ketigalakukan stressing dengan cara tidak disiram selama 1 (satu) bulan. Dalam kondisi tanpa penyiraman secara otomatis akar akan tanaman berusaha keras untuk mencari sumber air. Pada saat inilah simbiosis antara akar tanaman denagn Mikoriza berjalan dengan optimal. Hifa-hifa Mikoriza akan memanjang untuk membantu akar tanaman mencari sumber air.
- Dengan pemaparan sinar matahari. Setelah perlakuan tanpa penyiraman, kombinasikan dengan perlakukan pemparan tanaman inang dibawah sinar matahari. Pemaparan sinar matahari ini akan semakin menekan kondisi fisik tanaman inang sehingga diharapkan dengan semakin tertekan kondisi fisiknya akan mempengaruhi juga kondisi Mikoriza sehingga dalam kondisi yang tidak menguntungkan tersebut Mikoriza akan membentuk spora untuk mempertahankan hidupnya.
- 3. Topping. Topping adalah memotong tajuk tanaman inang. Potong tajuk tanaman inang dan sisakan batang bawahnya kurang lebih tinggal ¾ nya saja. Dalam kondisi seperti ini tanaman inang dan Mikoriza mengalami kondisi tekanan yang sanagt tinggi. Tanaman inang akan mati, sedangkan Mikoriza akan berusaha untuk mempertahankan diri. Dengan teori bahwa semua mikroorganisme jika mengalami kondisi yang tidak menguntungkan maka akan membentuk struktur tahan. Sama halnya dengan Mikoriza yang juga merupakan mikroorgnisme. Hifa-hifa Mikoriza akan mengerut dan membentuk spora. Dalam bentuk spora inilah Mikoriza dapat di panen
Pemanenan
Pemanenan
dilakukan setelah tanaman inang mengalami strssing atau kurang lebih 3 (tiga)
bulan. Cara pemanenan Mikoriza adalah sebagai berikut:
- Bongkar tanaman inang yang telah di stressing lalu campur dan aduk media tanam yang berupa zeolit.
- Potong akar tanamn inang kecil-kecil dengan menggunakan gunting.
- Campurkan potongan akar tanaman inang dengan zeolit
- Kemas mikoriza yang menggunakan bahan pembawa zeolit dengan menggunakan plastik.
- Mikoriza siap untuk diaplikasikan
Jika ingin
mengetahui kualitas Mikoriza hasil perbanyakan massal yang telah dilakukan maka
harus dilakukan pengamatan mikroskopik dengan menggunakan alat bantu mikroskop
di laboratorium. Mikoriza dapat dikatakan berkualitas jika jumlah spora
Mikoriza tiap gram medianya mengandung 10-20 spora. Mikoriza dengan bahan
pembawa zeolit dapat bertahan sampai 1 tahun. Dengan masa penyimpanan
yang semakin lama maka akan terjadi penurunan kualitas. Sehingga setelah
dipanen Mikoriza sebaiknya segera untuk diaplikasikan sebagai pupuk hayati.
Pengembangan
dan perbanyakan massal mikoriza ditingkat petani akan semakin mudah dengan
teknologi diatas. Dengan teknologi tepat guna, dengan menggunakan bahandan
alat yang sederhana petani mampu memproduksi mikoriza secara mandiri.
Dengan kemampuan memproduksi secara mandiri diharapkan petani Indonesia mampu
mengatasi lahan-lahan kritis. Dengan tertanggulanginya lahan kritis di
Indonesia maka Indonesia akan mampu berswasembada. Hidup petani Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar